Kompas
Layaknya kompas yang menjadi petunjuk arah bagi setiap orang yang tersesat, begipun kamu. Kamu sangat berarti untuk aku, menjadi penuntun arah untuk diriku ketika aku berada ditempat yang aku sendiri tidak tahu jalan keluarnya. Hariku dipenuhi ketakutan, aku takut kehilanganmu. Kamu begitu baik, sampai aku rela memberikan semuanya kepadamu. Suatu ketika, terlintas dipikiranku untuk membuka handphonemu. Tidak sengaja aku melihat hal yang tidak ingin aku llihat. Iya benar, aku melihat fotomu bersama mantan kekasih kamu itu. Aku hanya bisa menahan tangis karena aku tidak ingin memperpanjang masalah dan bertengkar denganmu. Begitu sakit ketika aku melihat history chattmu dengan ibunya. Sakit... Aku melihat kamu sangat dekat dengannya dan keluarganya. Aku paham kalau itu masa lalumu tetapi alangkah baiknya kamu menghapus itu semua, tutup semua tentangnya dan baru menjalin hubungan baru denganku.
Aku melihat kamu memperlakukan dia selayaknya ratu. Kamu izinkan dia jika ingin main, kamu bertanya pada ibunya, kamu bertanya kepada temannya jika dia tidak ada kabar, dan kamu melakukan hal hal yang indah bersamanya. Aku merasa beda caramu memperlakukanku, kamu kasar dan memukulku jika kamu marah. Iya, memang kamu sekarang sudah bia menahan itu tetapi apa kamu tau betapa aku sangat menginginkan hal hal yang memang aku ingin lakukan?.
Waktu berjalan, kamu terus menjadi petunjuk arahku. Meskipun tersesat, aku tetap tenang kaerna aku bersamamu. Sayangku kepadamu begitu besar, aku menyayangimu lebih dari aku menyayangi diriku sendiri. Sekarang, aku mulai lelah. Jika membuang kompas dan mencari petunjuk arah dari langit dapat membuatku lebih baik, aku akan melakukan itu.
Komentar
Posting Komentar